Saat ini tengah ramai polemik tentang anggota Dewan yang terhormat, mendapatkan privilege untuk menjalani rapid test COVID-19, di tengah carut-marut dan keterbatasan penanganan kasus COVID-19 di masyarakat umum.

Tentu saja para anggota Dewan yang terhormat punya dalih, bahwa itu dilakukan, misalnya dengan mengatakan alat test tersebut bukan dibeli dari APBN (uang rakyat).

Mereka lupa, ini bukan soal uang, namun soal etika dan moralitas pemimpin. Mereka lupa bahwa pemimpin sejati selalu makan paling belakangan, seperti yang dilakukan Julius Caesar, atau seperti yang diceritakan Simon Sinek dalam bukunya, “Leader Eat Last”.

Di dunia militer, anak buah selalu makan duluan. Komandan akan makan pada saat anak buahnya sudah kebagian semua. Beginilah leadership diajarkan di dunia militer.

Leadership adalah bagaimana kita bisa mengambil resiko, untuk memastikan orang lain di sekitar kita bisa selamat.

Pemimpin perlu memberikan rasa aman dan kepercayaan, agar anak buah bisa tenang dan melakukan tugasnya dengan baik.

Leadership mestinya adalah bagaimana kita melayani anak buah, masyarakat. Sebuah standar moral yang tinggi.

Namun bangsa Indonesia tampaknya tengah mengalami krisis kepemimpinan. Sehingga sedikit dari pejabat yang lebih memikirkan rakyatnya ketimbang diri dan kelompoknya sendiri.

Krisis kepemimpinan sejatinya jauh lebih berbahaya dari krisis apapun, termasuk pandemi corona yang sekarang tengah melanda.

Bagaimana bangsa ini bisa keluar dari krisis kepemimpinan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here