Ingin membuat product atau service berbasis microservices? Migrasi existing platform ke microservices? Pahami why dan hownya, agar tidak keblasuk. Microservices yang didesain dengan kurang cermat, lebih berbahaya dari monolitik yang didesain dengan buruk.

Memang kita sering terjebak dengan trend dan hype yang sedang ramai. Padahal selalu mengikuti trend dan hype tidak baik bagi kesehatan bisnis.

Microservices bukanlah silver bullet yang bisa jadi solusi semua persoalan IT. Pahami kapan saatnya kita harus migrasi ke microservices.

Kapan harus menggunakan microservices?

Umumnya para penyedia solusi mengadopsi microservices untuk produk yang telah ada di production cukup lama, dan menjadi terlalu besar untuk diupdate dan di maintain secara monolitik. Dengan migrasi ke microservices, harapannya adalah:

  • Meningkatkan kehandalan sistem, sejalan dengan pecahan-pecahan modul yang bisa dihandle secara terpisah.
  • Mengurangi kompleksitas development, dengan adanya fungsi-fungsi yang semakin mandiri.
  • Durasi time-to-market yang lebih singkat untuk setiap fitur baru, karena membuat modul baru yang lebih kecil tentu lebih cepat daripada mengupdate produk besar secara keseluruhan.

Anda bisa saja menggunakan arsitektur microservices untuk sebuah produk baru, namun harus menggunakannya sejak dari awal, ketika membuat MVP. Pastikan anda memiliki plan yang baik, dan menggunakan CI/CD pipeline yang tepat sejak awal, yang menuntut tim memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk medesain, implemen, dan maintain sistem yang dibangun.

Memahami keuntungan dan effort yang dibutuhkan saat implementasi microservices, adalah kunci dari keberhasilan.

Namun yang sering dilupakan orang adalah, migrasi dari monolitik ke microservices mengakibatkan bertambahnya kompleksitas operasional. Dari sini akan muncul tuntutan untuk melakukan development, testing, deployment, dan sinkronisasi secara lebih cerdas (baca: automated).

Yang paling penting dan juga sering dilupakan, implementasi microservices menuntut adanya tim yang memiliki skill dan pengalaman yang cukup. Jika tidak, tentu saja anda akan mengalami mimpi buruk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here